KALIMANTAN, 16NEWS-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di semua provinsi di Kalimantan mengalami lonjakan jumlah titik api yang mengakibatkan pulau itu 'dikepung' kabut asap di beberapa wilayah. Sementara tim pemadam di lapangan masih kesulitan memadamkan api yang kerap muncul kembali setelah dipadamkan.
Bagaimana warga Kalimantan menghadapi kabut asap di tengah fenomena El-Nino Godzilla?
Di media sosial, Banjarbaru, Kalimantan Selatan menjadi sorotan, lantaran seorang ibu, Riri Jayanti membagikan foto kedua anaknya yang akan berangkat sekolah, tetapi dikelilingi kabut asap pekat.
Tinggal di dekat rumah Riri, Abdul Kholik, rugi puluhan juta rupiah, akibat api membakar peternakan ayamnya. Istrinya yang sedang hamil kini mengalami gangguan pernapasan karena terpapar udara kotor hasil karhutla.
Masih di Banjarbaru, seorang pemuda yang sedang menyelesaikan skripsinya, Dony Restu, seumur hidupnya selalu berhadapan dengan kabut asap yang dia katakan beraroma 'apek' seperti asap ketika orang bakar sampah.
Kabut asap juga masih menyergap Pontianak, Kalimantan Barat hingga Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Sementara di lapangan, petugas masih kesulitan memadamkan api terutama di atas lahan gambut, di tengah proses melelahkan bertahun-tahun itu, mereka bilang "kami tidak punya kuasa untuk mengeluh".
Pada 19 Agustus, Riri Jayanti (38 tahun) seorang ibu rumah tangga di Landasan Ulin, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, mengunggah foto dan video kedua anaknya yang akan berangkat sekolah seolah ditelan kabut asap.
Kedua anak Riri kala itu masih harus ke sekolah sambil mengenakan masker. Dia bilang kepada jurnalis BBC News Indonesia, Nicky Aulia Widadio, "belum ada kebijakan dari sekolah maupun dinas setempat untuk libur sekolah atau masuk lebih siang".
Sehari setelahnya, baru ada kebijakan masuk lebih siang pada pukul 09.00 WITA, jika kabut asap tebal pada pagi hari.
Riri mengaku, di wilayah tempat tinggalnya, hampir tidak pernah turun hujan dalam tiga bulan terakhir.
"Kalau batuk-batuk itu anak-anak sudah hampir merata ya. Di lingkungan kami, ada dua bayi yang sudah kena ISPA, lansia juga ada yang terdampak," katanya.
Riri juga merekam kabut asap dampak kebakaran hutan di Kalimantan selatan. Dari video itu, nampak jalanan di lingkungan permukiman diselimuti kabut asap dengan jarak pandang yang terbatas.
Setelah itu, dia tidak sempat merekam lagi karena panik.
"[Api] sudah saking dekatnya dengan rumah warga, kami fokus siramkan air ke titik api dan sekitarnya, supaya tidak menjalar ke rumah dan kandang kambing. Alhamdulillah, ada bantuan pemadam dari Kodim (Komando Distrik Militer), kepolisian, dan Basarnas (Badan Nasional Pencarian dan pertolongan).
Meski setiap tahun Riri dan keluarganya terdampak kabut asap setiap musim kemarau karena ada kebakaran lahan, dia mengaku "api paling dekat permukiman ya [baru] tahun [2026] ini".
"Sebelumnya, api tidak pernah sedekat ini, kami hanya kebagian asap tebalnya saja," tambah Riri.
Pada 2026, Riri mengaku tidak pernah mendengar informasi peringatan dini tentang kebakaran hutan dan lahan dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), "entah saya yang ketinggalan info atau bagaimana, tetapi kalau dari warga dan tim pemadam kompleks [perumahan] setiap kemarau sudah selalu siaga".
Rumahnya berdekatan dengan lahan gambut yang saban tahun terbakar. Riri bilang, setiap kemarau kesiagaan itu sudah otomatis hadir di lingkungan tempat tinggalnya.
Di ranah pendidikan, kabut asap membuat pemerintah menyesuaikan jam masuk sekolah. Dinas Pendidikan (Disdik) Banjarbaru membuat surat edaran kepada satuan pendidikan tingkat kota seperti PAUD-TK, SD, dan SMP agar waktu pembelajaran diundur.
(Source:Silvana Hajid/bbc.com)










LEAVE A REPLY